Senin, 22 Oktober 2012

Empat Kiat Memulai dan Menjalankan Bisnis Anda Sendiri

Oleh Megan Totka

Menurut National Association of Women Business Owners, ada 10,1 juta wanita yang memiliki bisnis di Amerika Serikat. Kenyataanya, 40 persen dari semua perusahaan milik pribadi di AS dan 30 persen bisnis kecil dimiliki oleh para wanita.

Sejumlah bisnis yang dimiliki oleh para wanita mempekerjakan lebih dari 13 juta warga Amerika dan menghasilkan penjualan senilai lebih dari $1,9 triliun (sekitar Rp18,21 kuadriliun) pada tahun 2008.

Para wanita memiliki pengalaman lebih serta meningkatkan kesuksesan dalam dunia bisnis. Namun, banyak bisnis yang dijalankan oleh para wanita yang berjalan di beberapa bidang jauh tertinggal dibandingkan dengan bisnis yang dijalankan oleh kaum pria — yang setidaknya menghasilkan pendapatan rata-rata $1 juta (sekitar Rp9,59 miliar) per tahun.

Dengan prestasi tersebut dan untuk merayakan National Women's Small Business Month pada bulan ini, berikut adalah empat tip bagi para wanita yang ingin memulai dan menjalankan bisnis kecilnya sendiri.

Mulailah bisnis yang sesuai dengan kehidupan pribadi Anda
Anda tidak memerlukan satu acuan untuk memiliki sebuah bisnis yang sukses dan memuaskan. Kenali diri Anda sendiri dan ketahuilah hal apa yang paling penting bagi Anda.

Jika Anda menganggap bahwa waktu liburan atau waktu bersama keluarga lebih bermakna dibandingkan memecahkan rekor penjualan ratusan juta rupiah dalam setahun, ikuti saja hal keinginan Anda. Kebahagiaan Anda tidak akan muncul dengan visi kesuksesan orang lain.

Luaskan jaringan
Jaringan adalah sebuah aspek kunci untuk memulai dan menjaga kesuksesan bisnis Anda. Saat ini, banyak bisnis kecil kembali membuat jaringan melalui jalur elektronik, mulai dari media sosial, email pemasaran, panduan bisnis online, dan bahkan kebanyakan melalui jaringan nirkabel.

Teknologi terbaru memang menawarkan kemurahan, kemudahan, serta cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan para rekan dan para konsumen. Tetapi perjumpaan dengan bertatap muka masih menjadi bagian penting dalam memaksimalkan kesuksesan bisnis Anda. Keluarlah ke dunia nyata untuk bertemu dengan orang-orang baru dan buatlah hubungan yang erat.

Mencari sumber pendanaan
Sebagai tambahan, semua cara hebat yang dilakukan wirausaha dalam mencari dana untuk bisnis baru mereka, terdapat pinjaman dan sumber yang dibuat khusus untuk membantu perusahaan yang dimiliki para wanita.

Lakukan pencarian melalui internet dengan kata kunci seperti wanita, bisnis dan bantuan akan membantu Anda menemukan berbagai sumber pendanaan. Juga, banyak kota yang organisasi bisnis wanita yang menawarkan pinjaman, bimbingan, informasi serta saran untuk menjalankan bisnis.

Manfaatkan waktu dan bakat Anda
Tak seperti pria, wanita cenderung enggan mempromosikan dirinya. Biasanya, wanita justru ingin mengurangi harga produk dan memberi waktu mereka, khususnya ketika sedang memulai bisnis baru untuk kali pertama. Ingat bahwa bisnis adalah bisnis. Ketika Anda mendedikasikan waktu Anda, Anda juga harus melakukannya demi cinta dan keuntungan.

Usaha bisnis wanita itu unik dan bervariasi seperti halnya jutaan wanita yang telah memilikinya. Bangunlah bisnis Anda untuk memenuhi kehidupan Anda, lihatlah nilai terhadap apa yang Anda tawarkan, serta gunakan jaringan, pendanaan, juga berbagai sumber lainnya untuk membuat bisnis Anda tetap berkembang,

Itu adalah kunci untuk meraih kesuksesan yang sebenarnya.
sumber

Frans, Miliuner Furnitur yang Berjuang dari Jurang

Gagal dua kali membangun bisnis, kerap kali membuat pebisnis pemula tanpa kegigihan besar mundur dan akhirnya menyerah. Kamus itu tampaknya tak berlaku bagi Frans S Pekasa. Kegagalan usaha yang pernah dialaminya justru menghantarkan Frans menjadi pebisnis beromset miliaran rupiah per tahun.

"Jika orang-orang membangun usaha dari nol, saya mulai dari minus, harus berjuang dari dalam jurang," kata Frans membuka percakapan dengan VIVAnews saat ditemui di sela Trade Expo Indonesia 2012.

Frans, pebisnis yang bergerak di bidang furnitur, mengisahkan kegagalan pertama dialami keluarganya pada krisis moneter 1998. Kala itu, usaha kontraktor orang tuanya jatuh bangkrut karena tumpukan utang. Kondisi ini membawa usahnya terpaksa menjadi 'pasien' Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Tak mau menyerah dengan keadaan, Frans memutar otak untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Dengan pengalaman magang di salah satu perusahaan furnitur di Surabaya, Frans melihat potensi bisnis furnitur Indonesia sangat besar.

Bisnis baru Frans ini bukalah pabrik furnitur. Dia hanya membuat situs yang menjajakan produk-produk mebel Indonesia, khususnya dari rotan dan kayu jati.

"Pada 1999 lalu saya sudah membuat situs untuk jualan mebel dan sudah main Search Engine Optimization (SEO)," katanya.

Usahanya ternyata membuahkan hasil. Order dari luar negeri kerap kali berdatangan. Ia meneruskan order-order dari pembeli luar negeri itu kepada para pengrajin furniture. Dari kerjasama ini, Frans hanya mengambil komisi 10-15 persen untuk setiap satu peti kemas mebel yang diekspor.

"Saat itu satu kontainer senilai Rp200 juta, saya bisa dapat Rp30 juta," katanya.

Bisnis perantara melalui situs yang dikembangkan Frans terus berkembang. Hingga pada tahun 2000, keluarganya bisa keluar dari BPPN tanpa ada satupun aset yang disita.

Sayang, musibah tak bisa diterka. Bisnis Frans kembali tersandung masalah saat rekan kerjanya mulai menipunya sekitar 2004 lalu . Seluruh aset dari pabrik hingga karyawan diambil oleh rekan kerjanya. Lagi-lagi Frans kembali menanggung utang besar dari bank.

Terjatuh dua kali sempat membuat Frans dan istri stres. Kali ini, seluruh aset baik rumah dan mobil disita. Frans harus rela menumpang di rumah mertua.

Dukungan kuat istri akhirnya menggiringnya kembali bangkit. Bermodalkan kepercayaan, Frans memberanikan diri meminjam modal kepada para pengrajin.

"Nama baik dan kepercayaan merupakan modal utama. Saya datang ke para pengrajin dan saya bilan saya punya order kalian mau bantu tidak? Akhirnya mereka mau meminjami saya hingga Rp11 miliar secara bertahap. Itu sangat besar," katanya.

Menggandeng 130 pengrajin kayu, usaha Frans kini meningkat pesat. Empat buah pabrik mebel yang fokus pada produk furnitur kayu luar ruangan dimilikinya. Tak lupa, Frans tetap fokus menawarkan produknya melalui internet dari situs pribadinya teak123.com.

Strategi penjualan ini terbukti membawa produk furnitur Frans menembus hingga 45 negara dari Asia Pasifik, Eropa, Amerika Serikat, hingga Amerika Latin.

Dengan kapasitas keempat pabriknya yang mencapai 30 kontainer per bulan, Frans kini mengantongi omzet hingga US$5 juta atau Rp47 miliar (kurs Rp9.400) per tahunnya.

Bukti kejayaan Frans masih terlihat manakala dia mulai mengembangkan bisnis dengan membuka toko furniture di Nanning, China. Bisnis mancanegaranya ini sudah berjalan sekitar setahun.
sumber

Bosan Jadi Karyawan, Mulyadi Kini Punya 50 Anak Buah

Bosan menjadi karyawan di pabrik furnitur, Mulyadi terus memutar otak agar bisa usaha sendiri. Tapi, cita-citanya belum tercapai juga.

Hingga suatu saat, pada 2005, ia berjalan-jalan di sekitar pantai di dekat kota Jepara, Jawa Tengah. Ia melihat bekas kerang berserak hanya menjadi sampah. Sampai di rumah, ia terus memutar otak. Akhirnya, didapat ide membuat hiasan lampu dengan cangkang kerang.

Dia pun merangkai cangkang dengan memotong dan menggergaji agar sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Cangkang dilapisi powder coating agar terlihat mengkilap dan bertekstur keras. Kemudian direkatkan dan dibentuk layaknya tutup lampu.

Saat pembuatan, Mulyadi tak menuai kendala. Maklum saja, ia sudah lama menjadi kuli di satu pabrik furnitur di desanya. Namun, saat pemasaran perdana, ia bingung. "Saya memilih menitipkan ke toko-toko," kata Mulyadi bercerita kepada VIVAnews.
Sepekan-dua pekan tak ada kabar. Entah laku atau tidak. Baru setelah sebulan ia dapat telepon, ada pedagang yang memesan satu kontainer produknya. "Saya bingung minta ampun. Satu kontainer itu ratusan tutup lampu," kata Mulyadi, mengenang.

Lalu, ia pun menyanggupi. Ia mencari tetangga-tetangganya untuk membantu pesanannya. Sebagian mencari cangkang kerang, sebagian lagi mengolahnya. Ia membutuhkan banyak orang, karena satu lampu bisa memakan waktu lima hari bila dikerjakan satu orang. Cukup lama untuk ukuran hiasan. Tapi, keyakinan dan kerja kerasnya, ia bisa menyelesaikan pesanan itu.

Setelah mendapat pesanan itu, nasib Mulyadi berubah. Ia memilih tak bekerja sebagai karyawan lagi. Ia menekuni bisnis barunya ini. Modal sudah ia dapat dari pesanan satu kontainer itu.

Tak berhenti di hiasan lampu. Mulyadi juga terus berkreasi ke hiasan meja, cermin, dan hiasan lain. Semua berbahan dasar kerang, bahan yang jadi sampah di kotanya.

Hingga pada 2008, ia berkesempatan mengekspor produknya. Kini hiasan kerangnya sudah dikirim ke Amerika, India, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain.

Mulyadi pun sudah memiliki 50 karyawan dan memiliki tiga gerai, salah satunya di kawasan elite Gandaria City, Jakarta. Dengan membanderol hiasan Rp200 ribu-Rp3 juta, Mulyadi bisa mendapat untung Rp20-30 juta sebulan.

sumber