Minggu, 23 September 2012

Ciputra: Indonesia Butuh Orang Kreatif

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha properti kawakan Ciputra menganggap, sekolah di Indonesia kebanyakan mengajarkan teori semata. Untuk bisa bangkit dari keterpurukan, Indonesia harus memperbanyak jumlah pewirausaha sekaligus merombak kurikulum pendidikan.
"Sekolah di Indonesia itu kebanyakan teori, kebanyakan menghafal. Padahal Indonesia butuh orang kreatif sehingga tidak diperlukan kebanyakan teori, tapi langsung praktek," kata Ciputra saat memberikan sambutan Pelatihan Kewirausahaan di kantor Bank Indonesia (BI) Jakarta, Senin (3/9/2012).
Ciputra memisalkan bahwa untuk bisa pandai berenang, maka calon perenang harus diajarkan berenang secara langsung di kolam, bukan hanya diberikan teori saja. Begitu juga saat belajar naik sepeda motor, maka harus belajar langsung mengendarai sepeda motor.
Untuk mengubah citra pendidikan tersebut, Ciputra menginginkan ada perombakan kurikulum di bidang pendidikan, khususnya ada penambahan mata pelajaran atau mata kuliah tentang wirausahawan. "Kalau perlu menterinya harus seorang wirausahawan. Kurikulumnya harus dirombak. Jangan hanya menghafal saja. Itu tidak perlu," jelasnya.
Begitu pula dengan wirausaha. Masyarakat Indonesia harus diberdayakan dengan pengetahuan dan praktek tentang wirausaha, apapun jenisnya.
Bagi Ciputra, belajar wirausaha adalah belajar sesuatu yang menarik dan menantang. "Dulu saya tidak pernah ranking satu. Jadi selalu saja ada yang lebih pintar dari saya. Tapi ternyata, orang yang menjadi ranking satu itu sekarang menjadi sekretaris saya. Saya menjadi bosnya," kenangnya.
Menurut Ciputra, orang yang terlalu pintar itu hanya menjadi penurut. Mereka tidak mampu dan tidak berani merombak pakem yang sudah ditentukan. Akhirnya mereka menjadi pekerja biasa.
Sementara orang yang biasa-biasa saja namun memiliki kecerdasan emosi (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient) adalah ciri khas orang yang sukses menjadi pewirausaha. "Jadi untuk sekolah ini, mereka jangan hanya di tes Intelligent Quotient (IQ) saja. Tapi juga harus EQ dan SQ, biar seimbang. Selain itu wawasan otak kanannya juga harus diperkuat, jangan hanya mengandalkan otak kiri," pesannya.

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/03/11580773/Ciputra.Indonesia.Butuh.Orang.Kreatif

Aryanto, Dulu Loper Koran Kini Bos Rental

KOMPAS.com - Kerasnya hidup sering menjadi motor penggerak seseorang untuk mencapai keberhasilan atau kehidupan yang lebih baik. Seperti yang dialami Aryanto Mangundiharjo. Kerasnya kehidupan di jalanan membawanya menuai keberhasilan.

Lahir dari keluarga berada tak menjamin orang bisa sukses. Tapi, Aryanto Mangundiharjo membuktikan bahwa kerja keras dan pengalaman jatuh bangun merupakan faktor yang membuatnya sukses walau berasal dari keluarga berada. Berkat keuletan dan belajar dari kegagalan,

ia sukses menjadi pemain rental mobil mewah dengan bendera The Jakarta Limousine.

Saat ini The Jakarta Limousine mampu menghasilkan omzet Rp 300 juta hingga Rp 400 juta per bulan. Selain beberapa hotel bintang lima, Jakarta Limousine juga menjadi rekanan beberapa kedutaan besar seperti Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan China. Ada juga kerja sama dengan BRI dan Bank Indonesia.


Beberapa artis mancanegara seperti Super Junior, Rihanna, dan Justine Bieber pernah menggunakan jasa perusahaan Aryanto. “Selain
rental langsung, saya memasok mobil ke rental-rental mobil mewah ternama,” katanya. Saat ini, ia memang baru memiliki 16 unit mobil mewah bermerek Toyota Alphard, Fortuner, dan Mercedes Benz E Class. Khusus mobil limousine, biasanya dia mendapat pinjaman dari orang kaya.

Lahir dari keluarga berada, ayah Aryanto adalah pengusaha sewa-menyewa alat berat. Adapun ibunya seorang pemasok bahan kue di beberapa pengusaha kue. Tapi, saat kecil, ia lebih suka bermain dengan anak-anak loper koran meski sering dimarahi orang tuanya.


Ternyata pergaulan dengan loper koran memberi makna lain dalam kehidupan Aryanto. “Ada permasalahan keluarga yang membuat saya kabur dari rumah. Saya hidup di jalanan dan menjadi loper koran,” kenang lelaki kelahiran Jakarta, 14 Mei 1976 ini.


Tak cuma itu, setelah sang ayah meninggal, ekonomi keluarganya guncang. Aryanto juga terpaksa meninggalkan bangku sekolah. “Saat itu saya sukses menjadi loper berkat pager. Di antara lipatan koran, saya selipkan nomor pager saya. Dari situ, pelanggan bertambah banyak,” kenangnya.


Dari jerih payahnya itu, Aryanto berhasil menyewa rumah dan mengikuti pendidikan kejar paket. “Karena bosan, usaha loper saya berikan ke adik. Saya memilih menjadi satpam,” katanya. Di saat menjadi satpam, dia belajar menyetir. Akhirnya, dia berani bekerja sebagai sopir di perusahaan air minum. Selanjutnya, ia pindah ke perusahaan Jepang. Karena kerusuhan tahun 1998, perusahaan Jepang itu bubar. Ia menjadi sopir taksi di Blue Bird, lantas hijrah ke Bali menjadi supir taksi eksklusif.


Di Pulau Dewata, selain sebagai sopir taksi eksklusif, Aryanto mendapat tambahan penghasilan sebagai calo mobil sewaan. Dari situ, dia belajar soal bisnis penyewaan mobil. Peristiwa Bom Bali tahun 2002 membuatnya keluar dari pekerjaan dan kembali ke Jakarta dengan uang pesangon sebesar Rp 3 juta. Pada saat yang sama, usaha distributor koran yang dikelola sang adik juga bangkrut.


Bermodal pesangon itu, Aryanto memberanikan diri membuka usaha rental mobil. “Saya tidak punya mobil, cuma modal nomor telepon. Kalau ada order, saya akan cari rental lain,” katanya. Ia mendapat order dari perusahaan obat nyamuk yang menyewa 18 mobil untuk kegiatan di 10 kota selama 3 bulan. Dari order ini, ia mampu membeli mobil Kijang.


Order besar datang lagi dari perusahaan telepon seluler yang meminta 40 unit mobil dengan dibiayai oleh bank. “Saya tidak puas begitu saja dengan bisnis
rental ini. Saya coba menjadi kontraktor,” kenangnya. Sayang, baru menggarap satu proyek di Belitung, Aryanto sudah kena tipu sebesar Rp 1,4 miliar. Sementara itu, karena ulah karyawan yang nakal, 40 unit mobil sewaannya digelapkan penyewa.

Bangkit dari bangkrut


Utang bank yang menumpuk hingga menyebabkan rumah Aryanto disita. Uang hasil penjualan tanah yang dikelola sang istri lenyap karena kena tipu penjual valas. Tahun 2004, ia bangkrut dan terpaksa tinggal di rumah mertua.


Setahun lebih, Aryanto terpuruk. Pada pertengahan tahun 2006, dia mendapat pinjaman Rp 25 juta dari seorang teman. Bermodal itu, dia merintis usaha penyewaan mobil lagi tanpa kendaraan sendiri. Ia memanfaatkan mobil dari jasa penyewaan lain.


Suatu saat, dari pelanggannya yang warga negara asing, Aryanto mendengar keluhan soal susahnya mencari rental mobil mewah di Jakarta. Dari situ, ia tertarik menjajal bisnis ini. Dia mencari kenalan yang mau menyewakan mobil mewahnya. “Banyak yang mau, sebab untuk kelas Alphard saja, tarif sewa per 12 jam Rp 3 juta. Saya dapat komisi 50 persen,” katanya. Aryanto lantas fokus menggarap penyewaan mobil mewah meski tanpa modal mobil sendiri.


Aryanto akhirnya mendapat order 16 unit mobil mewah dengan masa sewa 10 hari sekaligus. Dalam jangka waktu itu, ia mengantongi untung Rp 270 juta. “Saya langsung beli rumah dan mobil Alphard. Dari modal itu, usaha saya terus bergulir dan kini saya memiliki 16 mobil mewah,” katanya.


 Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/29/09291773/Aryanto.Dulu.Loper.Koran.Kini.Bos.Rental

Tak Pernah Melewatkan Peluang

Alkisah seoran pemuda ingin menikahi gadis cantik, putri seorang petani. Pemuda itu datang pada si petani untuk meminta izin meminang anaknya. Si petani mengamati pemuda itu dan berkata, "Nak, pergilah ke padang itu. Aku akan melepaskan tiga banteng, satu per satu. Kalau kau bisa menangkap ekor salah satu dari tiga banteng itu, kau bisa menikahi putriku." Pemuda itu berdiri di padang, menunggu banteng pertama.
Pintu gudang terbuka dan keluarlah banteng yang bertampang paling sangar dan berukuran paling besar yang pernah dilihatnya. Pemuda itu memutuskan salah satu dari dua banteng yang lain pasti akan lebih baik dari yang satu ini. Dia pun berlari ke pinggir dan membiarkan banteng itu berlalu melewati padang hingga ke gerbang belakang.
Lalu, pintu gudang terbuka lagi. Tak disangkanya. Selama hidupnya, tak pernah dia melihat seekor binatang sebesar dan segalak ini. Banteng itu berdiri sambil mengais-ngais tanah, melenguh, dan air liurnya menetes, sementara matanya menatap tajam pemuda itu.
Bagaimanapun penampilan banteng berikutnya, pasti jadi pilihan yang lebih baik daripada yang kedua ini. Si pemuda pun berlari ke pagar dan membiarkan banteng kedua itu berlalu melewati padang, dan keluar menuju gerbang belakang.
Pintu kembali terbuka untuk kali ketiga. Seulas senyum muncul di wajah pemuda itu. Kali ini banteng yang muncul berukuran kecil dan paling lemah dan kurus kering yang pernah dilihatnya. Si pemuda yakin sekali inilah banteng untuknya. Ketika banteng itu berlari, si pemuda bersiap-siap hendak melompat di saat yang tepat. Dia pun berhasil menangkapnya...tapi sayangnya banteng itu tak punya ekor!
***
Seperti cerita ilustrasi di atas, kehidupan ini penuh dengan peluang. Sebagian peluang akan terasa mudah dan ringan dikerjakan, tapi sebagian lagi akan tampak sulit dan berat. Namun begitu kita melewatkan peluang-peluang itu (seringkali dengan harapan akan mendapat sesuatu yang jauh lebih baik), semua peluang itu justru tidak akan pernah muncul kembali. Maka, berusahalah untuk menangkap peluang yang ada di depan mata, meski kelihatannya sukar dan berat.

sumber :  http://www.andriewongso.com/artikel/aw_corner/5699/Tak_Pernah_Melewatkan_Peluang/