JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha properti kawakan
Ciputra menganggap, sekolah di Indonesia kebanyakan mengajarkan teori
semata. Untuk bisa bangkit dari keterpurukan, Indonesia harus
memperbanyak jumlah pewirausaha sekaligus merombak kurikulum pendidikan.
"Sekolah
di Indonesia itu kebanyakan teori, kebanyakan menghafal. Padahal
Indonesia butuh orang kreatif sehingga tidak diperlukan kebanyakan
teori, tapi langsung praktek," kata Ciputra saat memberikan sambutan
Pelatihan Kewirausahaan di kantor Bank Indonesia (BI) Jakarta, Senin
(3/9/2012).
Ciputra memisalkan bahwa untuk bisa pandai berenang,
maka calon perenang harus diajarkan berenang secara langsung di kolam,
bukan hanya diberikan teori saja. Begitu juga saat belajar naik sepeda
motor, maka harus belajar langsung mengendarai sepeda motor.
Untuk
mengubah citra pendidikan tersebut, Ciputra menginginkan ada perombakan
kurikulum di bidang pendidikan, khususnya ada penambahan mata pelajaran
atau mata kuliah tentang wirausahawan. "Kalau perlu menterinya harus
seorang wirausahawan. Kurikulumnya harus dirombak. Jangan hanya
menghafal saja. Itu tidak perlu," jelasnya.
Begitu pula dengan
wirausaha. Masyarakat Indonesia harus diberdayakan dengan pengetahuan
dan praktek tentang wirausaha, apapun jenisnya.
Bagi Ciputra,
belajar wirausaha adalah belajar sesuatu yang menarik dan menantang.
"Dulu saya tidak pernah ranking satu. Jadi selalu saja ada yang lebih
pintar dari saya. Tapi ternyata, orang yang menjadi ranking satu itu
sekarang menjadi sekretaris saya. Saya menjadi bosnya," kenangnya.
Menurut
Ciputra, orang yang terlalu pintar itu hanya menjadi penurut. Mereka
tidak mampu dan tidak berani merombak pakem yang sudah ditentukan.
Akhirnya mereka menjadi pekerja biasa.
Sementara orang yang
biasa-biasa saja namun memiliki kecerdasan emosi (emotional quotient)
dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient) adalah ciri khas orang
yang sukses menjadi pewirausaha. "Jadi untuk sekolah ini, mereka jangan
hanya di tes Intelligent Quotient (IQ) saja. Tapi juga harus EQ dan SQ,
biar seimbang. Selain itu wawasan otak kanannya juga harus diperkuat,
jangan hanya mengandalkan otak kiri," pesannya.
sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/03/11580773/Ciputra.Indonesia.Butuh.Orang.Kreatif
KOMPAS.com - Kerasnya hidup sering menjadi motor
penggerak seseorang untuk mencapai keberhasilan atau kehidupan yang
lebih baik. Seperti yang dialami Aryanto Mangundiharjo. Kerasnya
kehidupan di jalanan membawanya menuai keberhasilan.
Lahir
dari keluarga berada tak menjamin orang bisa sukses. Tapi, Aryanto
Mangundiharjo membuktikan bahwa kerja keras dan pengalaman jatuh bangun
merupakan faktor yang membuatnya sukses walau berasal dari keluarga
berada. Berkat keuletan dan belajar dari kegagalan,
ia sukses menjadi pemain rental mobil mewah dengan bendera The Jakarta Limousine.
Saat ini The Jakarta Limousine mampu menghasilkan omzet Rp 300 juta
hingga Rp 400 juta per bulan. Selain beberapa hotel bintang lima,
Jakarta Limousine juga menjadi rekanan beberapa kedutaan besar seperti
Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan China. Ada juga kerja sama dengan
BRI dan Bank Indonesia.
Beberapa artis mancanegara seperti
Super Junior, Rihanna, dan Justine Bieber pernah menggunakan jasa
perusahaan Aryanto. “Selain rental langsung, saya memasok
mobil ke rental-rental mobil mewah ternama,” katanya. Saat ini, ia
memang baru memiliki 16 unit mobil mewah bermerek Toyota Alphard,
Fortuner, dan Mercedes Benz E Class. Khusus mobil limousine, biasanya
dia mendapat pinjaman dari orang kaya.
Lahir dari keluarga
berada, ayah Aryanto adalah pengusaha sewa-menyewa alat berat. Adapun
ibunya seorang pemasok bahan kue di beberapa pengusaha kue. Tapi, saat
kecil, ia lebih suka bermain dengan anak-anak loper koran meski sering
dimarahi orang tuanya.
Ternyata pergaulan dengan loper koran
memberi makna lain dalam kehidupan Aryanto. “Ada permasalahan keluarga
yang membuat saya kabur dari rumah. Saya hidup di jalanan dan menjadi
loper koran,” kenang lelaki kelahiran Jakarta, 14 Mei 1976 ini.
Tak cuma itu, setelah sang ayah meninggal, ekonomi keluarganya
guncang. Aryanto juga terpaksa meninggalkan bangku sekolah. “Saat itu
saya sukses menjadi loper berkat pager. Di antara lipatan koran, saya
selipkan nomor pager saya. Dari situ, pelanggan bertambah banyak,”
kenangnya.
Dari jerih payahnya itu, Aryanto berhasil menyewa
rumah dan mengikuti pendidikan kejar paket. “Karena bosan, usaha loper
saya berikan ke adik. Saya memilih menjadi satpam,” katanya. Di saat
menjadi satpam, dia belajar menyetir. Akhirnya, dia berani bekerja
sebagai sopir di perusahaan air minum. Selanjutnya, ia pindah ke
perusahaan Jepang. Karena kerusuhan tahun 1998, perusahaan Jepang itu
bubar. Ia menjadi sopir taksi di Blue Bird, lantas hijrah ke Bali
menjadi supir taksi eksklusif.
Di Pulau Dewata, selain
sebagai sopir taksi eksklusif, Aryanto mendapat tambahan penghasilan
sebagai calo mobil sewaan. Dari situ, dia belajar soal bisnis penyewaan
mobil. Peristiwa Bom Bali tahun 2002 membuatnya keluar dari pekerjaan
dan kembali ke Jakarta dengan uang pesangon sebesar Rp 3 juta. Pada
saat yang sama, usaha distributor koran yang dikelola sang adik juga
bangkrut.
Bermodal pesangon itu, Aryanto memberanikan diri
membuka usaha rental mobil. “Saya tidak punya mobil, cuma modal nomor
telepon. Kalau ada order, saya akan cari rental lain,” katanya. Ia
mendapat order dari perusahaan obat nyamuk yang menyewa 18 mobil untuk
kegiatan di 10 kota selama 3 bulan. Dari order ini, ia mampu membeli
mobil Kijang.
Order besar datang lagi dari perusahaan telepon
seluler yang meminta 40 unit mobil dengan dibiayai oleh bank. “Saya
tidak puas begitu saja dengan bisnis rental ini. Saya coba
menjadi kontraktor,” kenangnya. Sayang, baru menggarap satu proyek di
Belitung, Aryanto sudah kena tipu sebesar Rp 1,4 miliar. Sementara itu,
karena ulah karyawan yang nakal, 40 unit mobil sewaannya digelapkan
penyewa.
Bangkit dari bangkrut
Utang
bank yang menumpuk hingga menyebabkan rumah Aryanto disita. Uang hasil
penjualan tanah yang dikelola sang istri lenyap karena kena tipu
penjual valas. Tahun 2004, ia bangkrut dan terpaksa tinggal di rumah
mertua.
Setahun lebih, Aryanto terpuruk. Pada pertengahan
tahun 2006, dia mendapat pinjaman Rp 25 juta dari seorang teman.
Bermodal itu, dia merintis usaha penyewaan mobil lagi tanpa kendaraan
sendiri. Ia memanfaatkan mobil dari jasa penyewaan lain.
Suatu saat, dari pelanggannya yang warga negara asing, Aryanto
mendengar keluhan soal susahnya mencari rental mobil mewah di Jakarta.
Dari situ, ia tertarik menjajal bisnis ini. Dia mencari kenalan yang
mau menyewakan mobil mewahnya. “Banyak yang mau, sebab untuk kelas
Alphard saja, tarif sewa per 12 jam Rp 3 juta. Saya dapat komisi 50
persen,” katanya. Aryanto lantas fokus menggarap penyewaan mobil mewah
meski tanpa modal mobil sendiri.
Aryanto akhirnya mendapat
order 16 unit mobil mewah dengan masa sewa 10 hari sekaligus. Dalam
jangka waktu itu, ia mengantongi untung Rp 270 juta. “Saya langsung
beli rumah dan mobil Alphard. Dari modal itu, usaha saya terus bergulir
dan kini saya memiliki 16 mobil mewah,” katanya.
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/29/09291773/Aryanto.Dulu.Loper.Koran.Kini.Bos.Rental
Alkisah seoran pemuda ingin menikahi gadis cantik, putri seorang petani.
Pemuda itu datang pada si petani untuk meminta izin meminang anaknya.
Si petani mengamati pemuda itu dan berkata, "Nak, pergilah ke padang
itu. Aku akan melepaskan tiga banteng, satu per satu. Kalau kau bisa
menangkap ekor salah satu dari tiga banteng itu, kau bisa menikahi
putriku."
Pemuda itu berdiri di padang, menunggu banteng pertama.
Pintu gudang terbuka dan keluarlah banteng yang bertampang paling sangar
dan berukuran paling besar yang pernah dilihatnya. Pemuda itu
memutuskan salah satu dari dua banteng yang lain pasti akan lebih baik
dari yang satu ini. Dia pun berlari ke pinggir dan membiarkan banteng
itu berlalu melewati padang hingga ke gerbang belakang.
Lalu, pintu gudang terbuka lagi. Tak disangkanya. Selama hidupnya, tak
pernah dia melihat seekor binatang sebesar dan segalak ini. Banteng itu
berdiri sambil mengais-ngais tanah, melenguh, dan air liurnya menetes,
sementara matanya menatap tajam pemuda itu.
Bagaimanapun penampilan banteng berikutnya, pasti jadi pilihan yang
lebih baik daripada yang kedua ini. Si pemuda pun berlari ke pagar dan
membiarkan banteng kedua itu berlalu melewati padang, dan keluar menuju
gerbang belakang.
Pintu kembali terbuka untuk kali ketiga. Seulas senyum muncul di wajah
pemuda itu. Kali ini banteng yang muncul berukuran kecil dan paling
lemah dan kurus kering yang pernah dilihatnya. Si pemuda yakin sekali
inilah banteng untuknya. Ketika banteng itu berlari, si pemuda
bersiap-siap hendak melompat di saat yang tepat. Dia pun berhasil
menangkapnya...tapi sayangnya banteng itu tak punya ekor!
***
Seperti cerita ilustrasi di atas, kehidupan ini penuh dengan
peluang. Sebagian peluang akan terasa mudah dan ringan dikerjakan, tapi
sebagian lagi akan tampak sulit dan berat. Namun begitu kita melewatkan
peluang-peluang itu (seringkali dengan harapan akan mendapat sesuatu
yang jauh lebih baik), semua peluang itu justru tidak akan pernah muncul
kembali. Maka, berusahalah untuk menangkap peluang yang ada di depan
mata, meski kelihatannya sukar dan berat.
sumber : http://www.andriewongso.com/artikel/aw_corner/5699/Tak_Pernah_Melewatkan_Peluang/